Yudi Latif, Ph.D seorang cendekiawan muda, pemikir keagamaan
dan kenegaraan. Penulis buku "Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas,
Aktualitas Pancasila" itu lahir di Sukabumi, 26 Agustus 1964. - Ketua
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia) dan Direktur
Eksekutif, Reform Institute, ini juga aktif sebagai dosen tamu di sejumlah
Pendidikan Tinggi.
Nya Anjeunna anu geus ngutus Rasul-Na kalawan mawa pituduh jeung agama nu hak pikeun ngunggulkeunana ti sakabeh agama-agama lian sanajan di pikaijid ku jalma-jalma musyrik oge.
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Indonesia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Juni 2013
Yusril Ihza Mahendra "Perjuangkan Piagam Jakarta"
Pekerjaan Utama: Menteri Sektetaris
Negara RI (2004-2007)
Mantan Menteri Sekretaris Negara Kabinet Indonesia Bersatu
yang dipecat Mei 2007, belakangan aktif dalam dunia perfilman. Lalu politisi
Partai Bulan Bintang yang gigih memperjuangkan Piagam Jakarta itu, diberitakan
akan diusulkan Presiden SBY menjadi hakim Mahkamah Konstitusi.
Syafruddin Prawiranegara "Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia"
Pekerjaan Utama: Presiden Pemerintah
Darurat Republik Indonesia
Pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia ini
merupakan orang kepercayaan Soekarno-Hatta. Ia pernah diberi mandat untuk
membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), pernah memegang
jabatan penting, seperti Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Menteri
Kemakmuran, dan Wakil Perdana Menteri.
Soekarno "Berdiri di Atas Kaki Sendiri"
Proklamator, Presiden RI Pertama
(1945-1966)
Soekarno (Bung Karno) Presiden
Pertama Republik Indonesia, 1945- 1966, menganut ideologi pembangunan 'berdiri
di atas kaki sendiri'. Proklamator yang lahir di Blitar, Jatim, 6 Juni 1901 ini
dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: "Go to
hell with your aid." Persetan dengan bantuanmu.
Ia
mengajak negara-negara sedang berkembang (baru merdeka) bersatu. Pemimpin Besar
Revolusi ini juga berhasil menggelorakan semangat revolusi bagi bangsanya,
serta menjaga keutuhan NKRI.
Tokoh
pencinta seni ini memiliki slogan yang kuat menggantungkan cita-cita setinggi
bintang untuk membawa rakyatnya menuju kehidupan sejahtera, adil makmur.
Ideologi pembangunan yang dianut pria yang berasal dari keturunan bangsawan
Jawa (Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, suku Jawa dan ibunya bernama
Ida Ayu Nyoman Rai, suku Bali), ini bila dilihat dari buku Pioneers in
Development, kira-kira condong menganut ideologi pembangunan yang dilahirkan
kaum ekonom yang tak mengenal kamus bahwa membangun suatu negeri harus mengemis
kepada Barat. Tapi bagi mereka, haram hukumnya meminta-minta bantuan asing.
Bersentuhan dengan negara Barat yang kaya, apalagi sampai meminta bantuan,
justru mencelakakan si melarat (negara miskin).
Bagi,
yang ketika kecil bernama Kusno, ini tampaknya tak ada kisah manis bagi
negara-negara miskin yang membangun dengan modal dan bantuan asing. Semua tetek
bengek manajemen pembangunan yang diperbantukan dan arus teknologi modern yang
dialihkan — agar si miskin jadi kaya dan mengejar Barat — hanyalah alat
pengisap kekayaan si miskin yang membuatnya makin terbelakang.
Itulah yang berhasil menggelorakan
semangat revolusi dan mengajak berdiri di atas kaki sendiri bagi bangsanya,
walaupun belum sempat berhasil membawa rakyatnya dalam kehidupan yang
sejahtera. Konsep "berdiri di atas kaki sendiri" memang belum
sampai ke tujuan tetapi setidaknya berhasil memberikan kebanggaan pada
eksistensi bangsa. Daripada berdiri di atas utang luar negeri yang
terbukti menghadirkan ketergantungan dan ketidakberdayaan (neokolonialisme).
Masa
kecil sudah diisi semangat kemandirian. Ia hanya beberapa tahun hidup bersama
orang tua di Blitar. Semasa SD hingga tamat, ia tinggal di Surabaya, indekos di
rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian
melanjut di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu ia pun telah
menggembleng jiwa nasio-nalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, ia pindah ke
Bandung dan me-lanjutkan ke THS (Technische Hooge-school atau Sekolah Tekhnik
Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada
25 Mei 1926.
Kemudian,
ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia)
pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, si
penjajah, menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929.
Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul 'Indonesia
Menggugat', dengan gagah berani ia menelanjangi kebobrokan Belanda, bangsa yang
mengaku lebih maju itu.
Pembelaannya
itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan.
Setelah bebas (1931), Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus
memimpinnya. Akibatnya, ia kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende,
Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah
melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan memproklamasikan pada 17
Agustus 1945. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian
menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya
mempersatukan nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia,
Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955
yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan
G-30-S/PKI melahirkan krisis politik sangat hebat. Ia pun tak mau membubarkan
PKI yang dituduh oleh mahasiswa dan TNI sebagai dalang kekejaman pembunuh para
jenderal itu. Suasana politik makin kacau. Sehingga pada 11 Maret 1966 ia
mengeluarkan surat perintah kepada untuk mengendalikan situasi, yang kemudian
dikenal dengan sebutan Supersemar. Tapi, inilah awal kejatuh-annya. Sebab
menggunakan Supersemar itu membubarkan PKI dan merebut simpati para dan
mahasiswa serta 'merebut' kekuasaan. MPR mengukuhkan Supersemar itu dan menolak
pertanggungjawaban Soekarno serta mengangkat sebagai Pejabat Presiden.
Kemudian
Bung Karno 'dipenjarakan' di Wisma Yaso, Jakarta. Kesehatannya terus memburuk.
Akhirnya, pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia
disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur di
dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar
Revolusi ini meninggalkan 8 orang anak.
Dari mendapatkan lima anak yaitu Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan
Guruh. Dari Hartini mendapat dua
anak yaitu Taufan dan Bayu. Sedangkan dari Ratna
Sari Dewi, turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mendapatkan seorang
putri yaitu Kartika.
Orator Ulung
Presiden
pertama RI itu pun dikenal sebagai orator yang ulung, yang dapat berpidato
secara amat berapi-api tentang revolusi nasional, neokolonialis-me dan imperialisme.
Ia juga amat percaya pada kekuatan massa, kekuatan rakyat.
"Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar
karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah
rakyat," kata Bung Karno, dalam karyanya 'Menggali Api Pancasila'. Suatu
ungkapan yang cukup jujur dari seorang orator besar.
Gejala
berbahasa Bung Karno merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak
orang. Kemahirannya menggunakan bahasa dengan segala macam gayanya berhubungan
dengan kepribadiannya. Hal ini tercermin dalam autobiografi, karangan-karangan
dan buku-buku sejarah yang memuat sepak terjangnya.
Ia
adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa
naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya
sudah diterbitkan dengan judul "Dibawah Bendera Revolusi", dua jilid.
Jilid pertama boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili
diri Soekarno sebagai Soekarno.
Dari
buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut tulisan pertama yang bermula dari
tahun 1926, dengan judul "Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme"
adalah paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam
upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya, seorang pemuda berumur 26
tahun.
Di
tengah kebesarannya, sang orator ulung dan penulis piawai, ini selalu
membutuhkan dukungan orang lain. Ia tak tahan kesepian dan tak suka tempat
tertutup.
Di
akhir masa kekuasaannya, ia sering merasa kesepian. Dalam autobio-grafinya yang
disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat itu, bercerita.
"Aku tak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap.
Kadang-kadang, di larut malam, aku menelepon seseorang yang dekat denganku
seperti misalnya Subandrio, Wakil Perdana Satu dan kataku, 'Bandrio datanglah
ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah
suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan
kalau saya tertidur, maafkanlah.... Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan
obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah."
Dalam
bagian lain disebutkan, "Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden
tak ubahnya seperti suatu pengasingan yang terpencil... Seringkali pikiran
oranglah yang berubah-ubah, bukan pikiranmu... Mereka turut menciptakan pulau
kesepian ini di sekelilingmu."
Anti
Imperialisme
Pada
17 Mei 1956. Bung Karno mendapat kehormatan menyampaikan pidato di depan
Kongres Amerika Serikat. Sebagaimana dilaporkan New York Times (halaman
pertama) pada hari berikutnya, dalam pidato itu dengan gigih ia menyerang
kolonialisme.
"Perjuangan
dan pengorbanan yang telah kami lakukan demi pembebasan rakyat kami dari
belenggu kolonialisme, telah berlangsung dari generasi ke generasi selama
berabad-abad. Tetapi, perjuangan itu masih belum selesai. Bagaimana perjuangan
itu bisa dikatakan selesai jika jutaan manusia di Asia maupun Afrika masih
berada di bawah dominasi kolonial, masih belum bisa menikmati
kemerdekaan?" pekik Soekarno ketika itu.
Hebatnya,
meskipun pidato itu dengan keras menentang kolonialisme dan imperialisme, serta
cukup kritis terhadap negara-negara Barat, ia mendapat sambutan luar biasa di
Amerika Serikat (AS).
Pidato
itu menunjukkan konsistensi pemikiran dan sikap-sikap Bung Karno yang sejak
masa mudanya antikolonialisme. Terutama pada periode 1926-1933, semangat
antikolonialisme dan anti-imperialisme itu sudah jelas dikedepankannya.
Sangat
jelas dan tegas ingatan kolektif dari pahitnya kolonialisme yang dilakukan
negara asing yang kaya itu. Namun, kata dan fakta adalah dua hal yang berbeda,
dan tak jarang saling bertolak belakang.
Soekarno
dan para penggagas nasionalisme lainnya dipaksa bergulat di antara
"kata" dan "fakta" politik yang dicoba dirajut namun
ternyata tidak mudah, dan tak jarang menemui jalan buntu.
Soekarno
yang rajin berkata-kata, antara lain mengenai gagasan besarnya menyatukan kaum
nasionalis, agama dan komunis (1926) menemukan kenyataan yang sama sekali
bertolak belakang, ketika ia mencobanya menjadi fakta. Begitu pula gagasan
besarnya yang lain: marhaenisme, atau nasionalisme marhaenistis, yang matang
dikonsepsikan pada tahun 1932. Bahkan, gagasannya mengenai Pancasila.
Tokoh
Kontroversial
Sebagai
sosok yang memiliki prinsip tegas, Bung Karno kerap dianggap sebagai tokoh
kontroversial. Maka tak heran jika dia memiliki lawan maupun kawan yang berani
secara terang-terangan mengritik maupun membela pandangannya. Di mata
lawan-lawan politiknya di Tanah Air, ia dianggap mewakili sosok kaum abangan
yang "kurang islami". Mereka bahkan menggolongkannya sebagai gembong
kelompok "nasionalis sekuler".
Akan
tetapi, di mata Syeikh Mahmud Syaltut dari Cairo, penggali Pancasila itu adalah
Qaida adzima min quwada harkat al-harir fii al-balad al-Islam (Pemimpin besar
dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Islam). Malahan, Demokrasi Terpimpin,
yang di dalam negeri diperdebatkan, justru dipuji oleh syeikh al-Azhar itu
sebagai, "lam yakun ila shuratu min shara asy syuraa' allatiy ja'alha
al-Qur'an sya'ana min syu'un al-mu'minin" (tidak lain hanyalah salah satu
gambaran dari permusyawaratan yang dijadikan oleh Al Quran sebagai dasar bagi
kaum beriman).
Tatkala
memuncak ketegangan antara Israel dan negara-negara Arab soal status Palestina
ketika itu, pers sensasional Arab menyambut Bung Karno, "Juara untuk
kepentingan-kepentingan Arab telah tiba". Begitu pula, Tahta Suci Vatikan
memberikan tiga gelar penghargaan kepada presiden dari Republik yang mayoritas
Muslim itu.
Memang,
pembelaan Bung Karno terhadap kaum tertindas tidak hanya untuk negerinya namun
juga negeri lain. Itulah sebabnya, mengapa ia dipuja habis oleh bangsa Arab
yang tengah menghadapi serangan Israel kala itu. Bung Karno dianggap sebagai
pemimpin kaum Muslim. Padahal, di dalam negeri sendiri ia kerap dipandang lebih
sebagai kaum abangan daripada kaum santri.
Sebenarnya,
seberapa religiuskah Bung Karno? Bukankah ia juga dalam konsepsi Pancasila
merumuskan sila Ketuhanan Yang Maha Esa? Sila yang menunjukkan bahwa bangsa
Indonesia adalah bangsa yang religius. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang
majemuk dan mengakui lima agama. Bagaimana mungkin merangkum visi lima agama
itu dalam satu kalimat yang mendasar itu kalau si pembuat kalimat tidak
memahami konteks kehidupan beragama di Indonesia secara benar?
Dalam
hal ini elok dikutip pendapat Clifford Geertz Islam Observed (1982): "Gaya
religius Soekarno adalah gaya Soekarno sendiri." Betapa tidak? Kepada
Louise Fischer, Bung Karno pernah mengaku bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen,
dan Hindu. Di mata pengamat seperti Geertz, pengakuan semacam itu dianggap sebagai
"bergaya ekspansif seolah-olah hendak merangkul seluruh dunia".
Sebaliknya, ungkapan semacam itu-pada hemat BJ Boland dalam The Struggle of
Islam in Modern Indonesia (1982)- "hanya merupakan perwujudan dari
perasaan keagamaan sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya Jawa". Bagi
penghayatan spiritual Timur, ucapan itu justru "merupakan keberanian untuk
menyuarakan berbagai pemikiran yang mungkin bisa dituduh para agamawan formalis
sebagai bidah".
Sistem
Politik
Soekarno
memiliki pandangan mengenai sistem politik yang didukungnya adalah yang paling
"cocok" dengan "kepribadian" dan "budaya" khas
bangsa Indonesia yang konon mementingkan kerja sama, gotong-royong, dan
keselarasan. Dalam retorika, ia mengecam "individualisme" yang
katanya lahir dari liberalisme Barat. Individualisme itu melahirkan egoisme,
dan ini terutama dicerminkan oleh pertarungan antarpartai.
Lalu
ia mencetuskan Demokrasi Terpimpin. Dalam berpolitik Soekarno mementingkan
politik mobilisasi massa, ia bersimpati pada gerakan-gerakan anti-imperialisme,
dan mungkin sebagai salah satu konsekuensinya, penerimaannya pada Partai
Komunis Indonesia (PKI) sebagai aktor politik yang sah, pendukung konsepsi
demokrasi terpimpin. Jadi ia mencanangkan sistem politik yang berwatak
anti-liberal dan curiga pada politik. Ia mementingkan "persatuan"
demi "revolusi".
Pada
tahun 1950-an, Indonesia memang ditandai oleh ketidakstabilan politik yang
disebabkan oleh sistem demokrasi parlementer. Sistem ini bersifat sangat
liberal, dan didominasi oleh partai-partai politik yang menguasai parlemen.
Pemilu 1955-yang dimenangkan empat kekuatan besar, Masyumi, Partai Nasional
Indonesia (PNI), (NU) serta PKI- hingga kini masih dianggap sebagai pemilu
paling bebas dan bersih yang pernah dilaksanakan sepanjang masa. Namun, di sisi
lain dari sistem parlemen yang dikuasai partai itu adalah sering jatuh
bangunnya kabinet yang dipimpin oleh perdana Menteri. Selain itu, sejarah juga
mencatat bahwa integritas nasional terus-menerus diancam oleh berbagai gerakan,
yakni DI/TI, PRRI/Permesta, dan sebagainya.
Kenyataan
ini membuat Soekarno makin curiga pada partai politik karena dia menganggap
Masyumi, dan juga PSI, terlibat dalam beberapa pemberontakan daerah.
Muhammad Yamin "Perumus Ikrar Sumpah Pemuda"
Pekerjaan Utama: Sastrawan, pejuang,
politikus
Dari sekian banyak bentuk perjuangannya, yang paling melekat
dengan sosok Pahlawan Nasional ini adalah perannya sebagai perumus ikrar Sumpah
Pemuda yang lahir dari Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Ia juga aktif
sebagai sastrawan dan politisi serta pernah memangku sejumlah jabatan penting
dalam pemerintahan, antara lain Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran,
Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962),
dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961-1962).
Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat,
pada 23 Agustus 1903. Yamin merupakan putra pasangan Usman yang bergelar
Bagindo Khatib dengan perempuan asal Padang Panjang bernama Siti Sa'adah. Yamin
yang berdarah Minang kemudian menikah dengan seorang wanita Jawa bernama Raden
Ajeng Sundari Merto Amodjo pada 1934. Dari hasil pernikahan beda suku tersebut,
pasangan ini dikaruniai seorang putra bernama Dang Rahadian Sinajangsih Yamin.
Meski
lahir di zaman kolonial, Yamin termasuk salah satu dari segelintir orang yang
beruntung karena mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan hingga tingkat
tinggi. Boleh jadi ini disebabkan oleh kedudukan sang ayah sebagai mantri kopi,
jabatan yang pada masa penjajahan Belanda tergolong cukup terpandang.
Yamin
menempuh pendidikan dasarnya di Hollands Inlands School (HIS) di Palembang,
kemudian ia tercatat sebagai peserta kursus pada Lembaga Pendidikan Peternakan
dan Pertanian di Cisarua, Bogor, selama lima tahun. Setelah itu dilanjutkan ke
sekolah Belanda setingkat SMA yang dulu dikenal dengan sebutan Algemene
Middelbare School (AMS) di Yogyakarta. Di sekolah tersebut, ia mempelajari
bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Kaei, dan sejarah purbakala.
Yamin
yang tergolong siswa cerdas berhasil menguasai empat mata pelajaran tersebut
hanya dalam tempo tiga tahun saja. Dalam mempelajari bahasa Yunani, Yamin
banyak menimba ilmu dari pastor-pastor di Seminari Yogya, sedangkan untuk
bahasa Latin, ia banyak dibantu Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer. Studi di AMS
merupakan persiapan Yamin untuk mempelajari kesusastraan Timur di Leiden,
Belanda.
Setelah
tamat AMS, Yamin pun bersiap-siap berangkat ke Leiden. Akan tetapi, sebelum
sempat berangkat, sebuah telegram dari Sawahlunto mengabarkan bahwa ayahnya
meninggal dunia. Karena itu, kandaslah cita-cita Yamin untuk belajar di Eropa
sebab uang peninggalan ayahnya hanya cukup untuk belajar lima tahun di sana.
Padahal, belajar kesusastraan Timur membutuhkan waktu tujuh tahun.
Setelah
gagal sekolah ke luar negeri, Yamin melanjutkan studi ke Recht Hogeschool (RHS)
di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum)
pada tahun 1932. Dengan gelar tersebut, Yamin menjalani profesinya sebagai
seorang advokat di Jakarta hingga tahun 1942.
Pelopor
Soneta
Pendidikan
dasar hingga tingkat tinggi yang dilaluinya di sekolah Belanda, membuat Yamin
banyak menyerap kesusastraan asing. Akan tetapi sebagai seorang intelektual, ia
tidak begitu saja menelan segala hal yang didapatnya, melainkan memadukan
konsep sastra Barat dengan gagasan budaya Indonesia yang nasionalis.
Mungkin
hal tersebut dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya, mengingat kedua orangtua
Yamin adalah keturunan kepala adat di Minangkabau. Oleh karena itu, tak heran
bila sejak kecil hingga beranjak remaja, Yamin dibekali pendidikan adat dan
agama. Sehingga ia tidak hanyut begitu saja oleh hal-hal yang pernah
diterimanya, baik itu berupa karya-karya sastra maupun sistem pendidikan Barat
yang dipelajarinya. Prinsip itulah yang terus dipertahankannya termasuk saat
menjalani perannya sebagai seorang sastrawan.
Yamin juga dikenal sebagai penyair yang pertama kali
menggunakan bentuk soneta di tahun 1921 sekaligus pelopor Angkatan Pujangga Baru
yang secara resmi berdiri tahun 1933. Kerinduan terhadap tanah kelahirannya
sewaktu ia merantau ke Jawa, kecintaannya pada tanah kelahirannya dan masa
lampau, menjadikan karyanya berciri romantis dan sentimentil, penuh kata-kata
indah yang sebagian diantaranya diambil dari bahasa daerahnya, Minangkabau.
Di
dunia sastra, nasionalisme seorang Muhammad Yamin dibuktikan dengan menghindari
pemakaian kata-kata Barat-Belanda. Sikapnya ini telah dipegang sejak ia
memimpin majalah Jong Sumatra. Meski pada kenyataaannya, dalam majalah itu
terdapat dua kubu yang berbeda pendapat soal bahasa pengantar yang akan
digunakan. Di satu sisi, kubu pimpinan Dr. M. Amir menghendaki Bahasa Belanda.
Sementara kubu Yamin ingin memakai bahasa Melayu. Jejak Yamin menggunakan bahasa
Melayu kemudian diikuti oleh Sanusi Pane
dan M. Hatta yang menulis soneta bertajuk Beranta Indera dalam majalah Jong Sumatra
edisi November 1921.
Ayah
satu anak ini pertama kali muncul sebagai penyair di tahun 1922 dengan puisi
berjudul Tanah Air, terdiri dari 30 bait dan tiap bait terdiri 9 baris. Yang
dimaksud "Tanah Air" di sini ialah Sumatera. "Tanah Air"
yang kini tersimpan di Pusat Dokumentasi HB Jassin
ini merupakan kumpulan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan.
Sebagai
penyair, gaya puisi Yamin masih terikat pada pola pantun dan syair yang masih
menekankan persamaan bunyi, sehingga kadang memasang kata-kata yang tidak perlu
hanya sekadar memenuhi syarat bilangan kata dan sajak akhir saja. Namun
demikian, Yamin dengan ciri khasnya tersebut berhasil memperbaharui puisi lama.
Pembaharuannya terletak pada variasi sajak akhir dan jumlah baris.
Yamin
juga dikenal sebagai penyair yang pertama kali menggunakan bentuk soneta di
tahun 1921 sekaligus pelopor Angkatan Pujangga Baru yang secara resmi berdiri
tahun 1933. Kerinduan terhadap tanah kelahirannya sewaktu ia merantau ke Jawa,
kecintaannya pada tanah kelahirannya dan masa lampau, menjadikan karyanya
berciri romantis dan sentimentil, penuh kata-kata indah yang sebagian diantaranya
diambil dari bahasa daerahnya, Minangkabau.
Kumpulan
puisi karya Yamin berikutnya berjudul Tumpah Darahku yang terdiri dari 88 bait
dan tiap bait terdiri dari 7 baris. Puisi tersebut ditampilkan pada 28 Oktober
1928, bertepatan dengan peristiwa bersejarah yakni Kongres Sumpah Pemuda. Karya
ini menjadi amat penting karena pada momen itu, Yamin dan beberapa orang
pejuang memutuskan untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu,
Indonesia.
Dalam
Tumpah Darahku, Yamin tak lagi menyanyikan Pulau Perca atau Sumatera saja,
melainkan menyanyikan kebesaran dan keagungan sejarah berbagai kerajaan dan
suku bangsa di Nusantara seperti kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Pasai.
Semua itu terlukis dalam sajak-sajaknya. Dalam salah satu baitnya, Yamin
mengatakan: "….. kita sedarah sebangsa/Bertanah air di Indonesia". Di
tahun yang sama, Yamin meluncurkan sebuah drama yang berdasarkan sejarah Jawa
dengan judul Ken Arok dan Ken Dedes.
Yamin
juga menaruh minat pada sejarah, terutama sejarah nasional. Karena baginya sejarah
adalah salah satu cara mewujudkan cita-cita Indonesia Raya. Dua karya Yamin
yang mengangkat tema sejarah adalah Gadjah Mada (1946) dan Pangeran Diponegoro
(1950). Selain puisi, drama, dan novel sejarah, Yamin juga banyak menerbitkan
esai, serta menerjemahkan karya-karya pujangga dunia seperti drama Julius
Caesar karya William Shakespeare, serta dua karya milik sastrawan India
Rabindranath Tagore yang masing-masing berjudul Menantikan Surat dari Raja dan
Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga.
Kiprah
Sebagai Politikus
Semangat
nasionalisme Muhammad Yamin sudah mulai berkobar sejak duduk di bangku kuliah
dengan aktif berjuang melawan penjajah lewat sejumlah organisasi yang akhirnya
membawanya ke panggung politik. Tahun 1926-1928, Yamin ditunjuk menjadi ketua
Jong Sumatera Bond. Ketertarikannya terhadap pergerakan kepemudaan berawal saat
salah seorang anggota Jong Soematraen Bond bernama Nazir Dt. Pamuntjak datang
ke Padang.
Nazir
yang ketika itu hendak berangkat ke Belanda untuk bersekolah, pelayarannya
terhambat karena Perang Dunia I (1914-1918). Ia kemudian menunda
keberangkatannya dan pulang ke Padang. Saat itulah Nazir memberikan penjelasan
tentang rencana pendirian cabang Jong Soematraen Bond di Padang dan
Bukittinggi. Dibantu Mohammad Taher Marah Sutan, Nazir menyelenggarakan rapat
dengan para pemuda pelajar di gedung Syarikat Usaha di Padang. Dalam rapat
tersebut, Nazir berpidato menggunakan bahasa Belanda. Sebab, saat itu bahasa
Indonesia belum lazim dipergunakan.
Dalam
pidatonya, ia memberikan semangat kepada para pemuda pelajar Sumatera untuk
segera bangkit. Kebangkitan tersebut ditandai dengan mendirikan perkumpulan
atau organisasi kepemudaan. Pidato Nazir saat itu berhasil menggugah semangat
berjuang para pemuda yang ditandai dengan berdirinya cabang Jong Soematraen
Bond di Padang dan Bukittinggi.
Di
perkumpulan pemuda se-Sumatera itulah, Yamin mulai meniti karirnya di bidang
organisasi bersama dengan Mohammad Hatta yang kelak menjadi wakil presiden RI
yang pertama. Jong Soematraen Bond kemudian berubah nama menjadi Pemuda
Sumatera.
Dari
sekian banyak bentuk perjuangannya, yang paling melekat dengan sosok Muhammad
Yamin adalah perannya sebagai perumus ikrar Sumpah Pemuda yang lahir dari
Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Kongres tersebut dihelat setelah
pemuda-pemudi dari berbagai daerah berkumpul dan menyatakan keinginannya untuk
bersatu. Selain itu, semangat persatuan bangsa juga digaungkan Perhimpunan
Indonesia di Belanda. Yamin berpandangan bahwa masa depan Indonesia akan
direkatkan oleh satu bahasa, yakni bahasa Indonesia.
Kemudian
dalam pidatonya, Yamin menyampaikan pesan untuk generasi muda, yakni ada hak
bagi para pemuda Indonesia untuk mendekatkan diri dengan tanah airnya, dengan
bangsanya yang telah melahirkannya. Pemuda merupakan tempat yang sebaik-baiknya
untuk menanam segala cita-cita dan tujuan, di dalam dada pemuda tersimpan
kemauan zaman baru, zaman yang akan datang; dan kemauan pemuda adalah banjir
yang tak boleh dihambat. Yamin sangat yakin akan cita-citanya untuk mewujudkan
Indonesia Raya bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan suatu bangunan
dengan tiang yang kokoh.
Terinspirasi
oleh Sumpah Palapa Gajah Mada, Muhammad Yamin membuat konsep ikrar Sumpah
Pemuda untuk dibacakan sebagai hasil Kongres Pemuda II. Konsep tersebut
kemudian disetujui oleh Soegondo sebagai ketua dan Amir Syarifuddin sebagai
bendahara. Kemudian, konsep tersebut dibacakan di depan kongres dan disetujui
oleh seluruh peserta. Rumusan hasil Kongres Pemuda II 1928 yang dibuat Muhammad
Yamin tersebut sekarang dikenal dengan ikrar Sumpah Pemuda yang sangat menjiwai
semangat pemuda Indonesia selanjutnya.
Di
kemudian hari, 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Peringatan
tersebut selalu dimeriahkan pula dengan kegiatan Bulan Bahasa dan sastra
Indonesia sebagai bentuk kebanggaan dan kecintaan rakyat terhadap
bahasa Indonesia. Sebab, dalam kongres itulah, bahasa Indonesia mulai diakui
secara de facto sebagai bahasa persatuan.
Setelah
turut terlibat menyatukan para pemuda lewat Kongres Pemuda II, Yamin melebarkan
perjuangannya ke ranah politik. Pada tahun 1931, ia tercatat sebagai anggota
Partai Indonesia, meski belakangan partai tersebut dibubarkan. Setelah itu
bersama Adam Malik,
Wilopo, dan Amir Syarifuddin, Yamin mendirikan Partai Gerakan Rakyat Indonesia.
Yamin secara resmi masuk ke dalam pemerintahan setelah diangkat sebagai anggota
Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat) hingga tahun 1942.
Semasa
pendudukan Jepang antara tahun 1942 dan 1945, Yamin bertugas di Pusat Tenaga Rakyat
(PUTERA), sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintah Jepang.
Pada tahun 1945, Yamin mendirikan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
(BPUPK), dibantu Ir. Soekarno. Yamin, bersama anggota panitia 9 BPUPKI kemudian
berhasil merumuskan Piagam Jakarta
dan menjadi dasar terbentuknya UUD 1945 serta Pancasila.
Figur
yang amat mencintai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini juga pernah
ditunjuk sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Setelah
proklamasi kemerdekaan, ia memangku sejumlah jabatan penting dalam
pemerintahan, antara lain sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran,
Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962),
dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961-1962).
Jabatan
terakhirnya sebagai pembantu presiden adalah Menteri Penerangan. Saat masih
mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai menteri itulah, sastrawan dan
negarawan yang banyak berjasa pada negara ini tutup usia di Jakarta, pada 17
Oktober 1962, di usia 59 tahun. Jasadnya kemudian dikebumikan di Talawi, sebuah
kota kecamatan yang terletak 20 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sawahlunto,
Sumatera Barat. Atas dedikasi dan kontribusinya, pemerintah RI menganugerahkan
gelar Pahlawan Nasional kepada Muhammad Yamin berdasarkan SK Presiden RI
No.088/TK/1973. eti | muli, red
ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Muhammad Yamin
Nama: Muhammad Yamin
Gelar: Pahlawan
Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.088/TK/1973
Lahir: Sawahlunto,
Sumatera Barat, 23 Agustus 1903
Meninggal: Jakarta, 17
Oktober 1962
Makam: Talawi,
Sawahlunto Sumatera Barat
Pekerjaan: Sastrawan,
pejuang, politikus
Agama: Islam
Orangtua: Usman
(bergelar Bagindo Khatib) & Siti Sa’adah
Istri: Raden Ajeng
Sundari Mertoatmadjo
Anak: Dang Rahadian
Sinajangsih Yamin
Perjuangan:
- Perumus ikrar Sumpah Pemuda yang lahir dari Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.
- Mendirikan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), dibantu Ir. Soekarno. Yamin, bersama anggota panitia 9 BPUPKI yang kemudian berhasil merumuskan piagam Jakarta dan menjadi dasar terbentuknya UUD 1945 serta Pancasila.
Pendidikan:
- Recht Hogeschool (RHS) di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten ‘Sarjana Hukum’, 1932
- Hollands Inlands School (HIS), Jakarta
- Algemene Middelbare School (AMS), Yogyakarta
- Lembaga Pendidikan Peternakan dan Pertanian di Cisarua, Bogor
- HIS, Palembang
Organisasi:
- AnggotaVolksraad (Dewan Perwakilan Rakyat)
- Partindo, 1932-1938
- Yong Sumatramen Bond (Organisasi Pemuda Sumatera), 1926-1928
Jabatan
dalam pemerintahan:
- Ketua Dewan Perancang Nasional, 1962
- Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara, 1961-1962
- Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan, 1953-1955
- Menteri Kehakiman, 1951
- Anggota Majelis Pertimbangan Putera
- Mendirikan Partai Gerakan Rakyat Indonesia bersama Adam Malik, Wilopo, dan Amir Syarifuddin
- Anggota BPUPKI
- Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
Karya:
- Puisi:
- Indonesia, Tumpah Darahku, Jakarta: Balai Pustaka (kumpulan), 1928
- Drama:
- Kalau Dewa Tara Sudah Berkata. Jakarta: Balai Pustaka, 1932
- Ken Arok dan Ken Dedes, Jakarta: Balai Pustaka, 1934
- Indonesia Tumpah Darahku, 1928
- Tanah Air, 1922
- Terjemahan:
- Julius Caesar karya Shakspeare, 1952
- Tan Malaka. Jakarta: Balai Pustaka, 1945
- Menantikan Surat dari Raja karya R. Tangore, 1928
- Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga karya R. Tigore, t.th
- Sejarah:
- Tata Negara Madjapahit, 1962
- Pertulisan Seriwidjaja Dikota Kanton (RRT) Dari Permulaan Abad XI, 1962
- Pertulisan Widjaja-Parakrama-Wardana dari Surodakan (Kediri) dengan Bertarich Sjaka 1368-T.M. 1447, 1962
- Pembangunan Semesta, 1961
- Sapta Darma, 1956
- Kebudajaan Asia-Afrika: Buku I: Bagian Naskah, 1955
- Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, 1951
- Revolusi Amerika, 1951
- 6000 tahun Sang Merah-Putih, 1951
- Sejarah Pangerah Dipenogoro, Jakarta: 1945
- Gadjah Mada, Jakarta: 1945
Pusat
Data Tokoh Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)

