Tampilkan postingan dengan label Muhadis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhadis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2013

Imam Muslim; Lumbung Ilmu, Penuh Kebaikan


Imam Muslim adalah periwayat hadits paling terpercaya, sejajar Imam Bukhari. Maka -mudah kita mengerti- jika (hampir) semua umat Islam mengenalnya dengan baik. Dia yang meninggal dalam usia relatif muda -55 tahun-, dikenal gigih dalam menuntut ilmu.
Sejak Kanak-kanak
Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz Al-Qusyairi An-Naisaburi adalah nama lengkapnya. Nama paling belakang itu -An-Naisaburi- dinisbahkan kepada negeri tempat dia berasal yaitu Naisabur, kota besar yang terletak di Khurasan. Dia lahir pada tahun 206 H.
Naisabur merupakan negeri ‘hidup’ karena ilmu sangat dihormati di sana. Di negeri itu, orang-orang sibuk mencari ilmu dan sekaligus mentransfernya. Tentu saja, cukup beruntung orang-orang yang tumbuh-kembang di lingkungan bagus seperti itu.
Keluarga Imam Muslim termasuk yang tidak menyia-nyiakan situasi itu. Al-Hajaj –orangtua Imam Muslim- termasuk dari masyayikh, yaitu kalangan orang yang memperhatikan ilmu dan berusaha untuk memperolehnya.
Hanya saja, sekalipun di negerinya sendiri sumber ilmu sudah cukup memadai, tetapi perjalanan mencari ilmu ke negeri lain adalah sebuah keniscayaan. Hal itu bisa kita lihat lewat sejarah hidup para ahli (hadits) di berbagai negeri Islam. Imam Muslim-pun termasuk dalam barisan pencari ilmu itu.
Perjalanan pertama Imam Muslim, bersamaan dengan saat dia berhaji pada tahun 220 hijriah. Dia yang saat itu masih belia -14 tahun- berguru hadits kepada Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi di Makkah. Dia pun mendapat ilmu serupa dari Ahmad bin Yunus dan beberapa ulama hadits lainnya di daerah Kufah, ketika di tengah perjalanan pulang menuju negerinya.
Perjalanan kedua berlangsung cukup panjang, menjelajah ke banyak negeri Islam. Dimulai sebelum tahun 230 Hijriah, Imam Muslim berkeliling dan belajar dari banyak ahli hadits. Adz-Dzahabi -pakar hadits dan sejarah- menuturkan bahwa Imam Muslim mulai belajar hadits sejak tahun 218 H, yang berarti ketika berusia 12 tahun. Dia tercatat pernah merantau ke sejumlah negeri untuk mencari ilmu hadits. Berikut ini, sebagian negeri yang pernah dia tinggali untuk mencari ilmu: Khurasan dan daerah sekitarnya, Ar-Ray, Iraq (seperti di Kufah, Bashrah dan Baghdad), Hijaz (terutama Makkah dan Madinah), Asy-Syam, dan Mesir.
Guru dia tentu saja sangat banyak. Al-Hafizh Adz-Dzahabi mencatat 220 orang guru yang riwayatnya diambil oleh Imam Muslim dan dicantumkan di Kitab Shahih-nya. Berikut adalah di antara guru-gurunya: Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi, Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Ishaq bin Rahuyah Al-Faqih Al-Mujtahid Al-Hafizh, Yahya bin Ma’in, Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan Abdullah bin Abdurrahman Ad-Darimi.
Ketekunan Imam Muslim mencari ilmu lalu mengantarkannya ke derajat seorang Imam di bidang ilmu hadits. Imam Muslim juga aktif menyebarkan ilmunya, baik di negerinya sendiri ataupun di negeri-negeri Islam lainnya. Dalam menyebarkan ilmu, Imam Muslim memanfaatkan dua kecakapan yang dipunyainya yaitu lewat ketajaman tulisan maupun dengan kekuatan lisannya.
Karya tulis Imam Muslim di bidang ilmu hadits cukup banyak. Di antaranya, adalah: Al-Jami’ ash-Shahih, Al-Kuna wa Al-Asma’, Al-Munfaridaat wa Al-Wildan, Ath-Thabaqaat, Rijalu ‘Urwah bin Az-Zubair, dan At-Tamyiz.
Karyanya yang paling fenomenal adalah Al-Jami’ ash-Shahih, yang beken disebut sebagai Shahih Muslim. Kitab Shahih Muslim dikatakan oleh Imam An-Nawawi sebagai salah satu Kitab yang paling shahih -setelah Al Qur’an- yang pernah ada. Sampai-sampai ketika ada kalimat “Hadits riwayat Muslim” di akhir sebuah hadits, maka rata-rata orang merasa tidak perlu untuk mengecek ulang tentang keshahihan hadits tersebut.
Secara bersama-sama, kedua Kitab -Shahih Bukhari dan Shahih Muslim- biasa disebut As-Shahihain. Adapun kedua tokoh ulama ahli hadits itu –Imam Bukhari dan Imam Muslim- populer disebut Asy-Syaikhani atau Asy Syaikhaini, yang berarti dua orang tua.
Mengingat ketinggian ilmunya, maka sangat banyak pihak yang menuntut ilmu kepada Imam Muslim. Berikut ini, di antara murid-muridnya: Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra`, Ali bin Al-Husain bin Al-Junaid Ar-Razi, Shalih bin Muhammad Jazrah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Abdurrahman bin Abu Hatim Ar-Razi, dan Abu Isa at-Tirmidzi.
Memang, sebagian ulama memasukkan At-Tirmidzi dalam jajaran murid Imam Muslim, karena terdapat sebuah hadits dalam Sunan At-Tirmidzi: “Muslim bin Hajjaj menuturkan kepada kami, Yahya bin Yahya menuturkan kepada kami, Abu Mu’awiyah menuturkan kepada kami, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wa-Sallam bersabda: ‘Untuk menentukan datangnya Ramadhan, hitunglah hilal bulan Sya’ban’. Dalam hadits tersebut tampak bahwa At-Tirmidzi meriwayatkan dari Imam Muslim.
Sadar akan ilmunya yang tinggi dan akhlaqnya yang mulia, sejumlah ulama memberikan kesaksian tentang Imam Muslim. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra` berkata, Imam Muslim “Merupakan ulama manusia, lumbung ilmu, dan aku tidak mengetahuinya kecuali kebaikan.” Ibnu Katsir berkata, Imam Muslim “Termasuk salah seorang dari para imam penghafal hadits.” Adz-Dzahabi berkata, Imam Muslim ”Imam besar, hafizh lagi mumpuni, hujah serta orang yang jujur.”
Kecuali sibuk mencari ilmu, Imam Muslim pun tetap aktif berusaha untuk menopang hidup dan dakwahnya. Dia termasuk di antara para ulama yang menghidupi diri dengan berdagang. Imam Muslim dikenal sebagai seorang pedagang pakaian yang sukses. Dia juga memiliki sawah-sawah di daerah Ustu yang menjadi sumber penghasilan keduanya. Dalam kesehariannya, dia dikenal dermawan.
Semoga Bersua
Imam Muslim wafat pada 261 H / 875 M. Nama dia harum, buah dari kegigihan dia dalam mencari ilmu dan mendakwahkan Islam. Jika kita mencintai Imam Muslim karena Allah, maka semoga Allah pertemukan kita dengannya kelak di surga. Sungguh, di Hari Akhir, “Engkau akan bersama dengan yang engkau cintai” (HR Bukhari dan Muslim). []


Imam Muslim

Nama              :           Abul Husain Muslim ibni al-Hajaj Qushayri al-Nisaburi
Gelaran           :           Imam Muslim
Lahir               :           821 M bersamaan 202 H atau 206 H
Wafat              :           875 H bersamaan 261 H
Etnik               :           Arab
Rantau            :           Parsi
Bidang            :           Hadis
Diilhami          :           Ahmad Ibni Hanbal, Muhammad al-Bukhari


Abul Husayn Muslim ibn al-Hajjaj Qushayri al-Nisaburi (bahasa Arab: أبو الحسين مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري) (hidup sekitar. 206-261 AH/c.821-875 CE), pengarang Muslim bagi kumpulan Hadith kedua penting dalam Islam Sunni, "Sahih Muslim". Dia juga dikenali secara ringkasnya sebagai "Al-Muslim."

 Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara'a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak ulama besar.

Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang luar biasa. Sejak usia dini, beliau telah berkonsentrasi mempelajari hadits. Pada tahun 218 H, beliau mulai belajar hadits, ketika usianya kurang dari lima belas tahun. Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan berguru pada seorang ahli hadits, yaitu Imam Ad Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan hadits.

Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas 'Abuzar; di Mesir beliau berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli hadits lainnya.

Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah beliau berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits. Kunjungannya yang terakhir beliau lakukan pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim sering mendatanginya untuk bertukar pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam Bukhari yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu hadits ketimbang dirinya.

Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, beliau bergabung kepada Bukhari. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya dengan Imam Az Zihli. Yang lebih menyedihkan, hubungan tak baik itu merembet ke masalah ilmu, yakni dalam hal penghimpunan dan periwayatan hadits-hadits Nabi SAW.

Imam Muslim dalam kitab shahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az Zihli, padahal beliau adalah gurunya. Hal serupa juga beliau lakukan terhadap Bukhari. Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan lain kecuali tidak memasukkan ke dalam Kitab Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu. Kendatipun demikian, dirinya tetap mengakui mereka sebagai gurunya.

Imam Muslim yang dikenal sangat tawadhu' dan wara' dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang beliau tulis dalam Shahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000 hadits yang beliau ketahui. Untuk menyaring hadits-hadits tersebut, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.

Mengenai metode penyusunan hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh, dan ta'dil, yakni suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Beliau juga menggunakan sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat), seperti haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarana (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), dan qaalaa (ia berkata).

Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam masalah ilmu hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam Bukhari. "Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Imam Muslim," komentar ulama besar Abu Quraisy Al Hafizh. Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy.

Reputasinya mengikuti gurunya Imam Bukhari

Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua kitab hadits shahih karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah, syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.

Melalui karyanya yang sangat berharga, al-Musnad ash-Shahih, atau al-Jami’ ash-Shahih, selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab tersebut memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, dan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.

Pengembaraan (rihlah) dalam pencarian hadits merupakan kekuatan tersendiri, dan amat penting bagi perkembangan intelektualnya. Dalam pengembaraan ini (tahun 220 H), Imam Muslim bertemu dengan guru-gurunya, dimana pertama kali bertemu dengan Qa’nabi dan yang lainnya, ketika menuju kota Makkah dalam rangka perjalanan haji. Perjalanan intelektual lebih serius, barangkali dilakukan tahun 230 H. Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya menuju ke Irak, Syria, Hijaz dan Mesir.

Waktu yang cukup lama dihabiskan bersama gurunya al-Bukhari. Kepada guru besarnya ini, Imam Muslim menaruh hormat yang luar biasa. "Biarkan aku mencium kakimu, hai Imam Muhadditsin dan dokter hadits," pintanya, ketika di sebuah pertemuan antara Bukhari dan Muslim.

Disamping itu, Imam Muslim memang dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah, sebagaimana al-Bukhari yang memiliki kehalusan budi bahasa, Imam Muslim juga memiliki reputasi, yang kemudian populer namanya — sebagaimana disebut oleh Adz-Dzahabi — dengan sebutan muhsin dari Naisabur.

Maslamah bin Qasim menegaskan, "Muslim adalah tsaqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam)." Senada pula, ungkapan ahli hadits dan fuqaha’ besar, Imam An-Nawawi, "Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits."

Kitab Shahih Muslim

Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama adalah karyanya, Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.

Walaupun dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam Muslim sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap hadits di tempat yang paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut. Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau sangat menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang berselisih pendapat dengan al-Bukhari.

Kitab Shahih Muslim memang dinilai kalangan muhaditsun berada setingkat di bawah al-Bukhari. Namun ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih unggul ketimbang kitabnya al-Bukhari.

Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.

Berdasarkan hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033 hadits. Metode penghitungan ini tidak didasarkan pada sistem isnad sebagaimana dilakukan ahli hadits, namun beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Artinya jika didasarkan isnad, jumlahnya bisa berlipat ganda.

Antara al-Bukhari dan Muslim

Imam Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya Studies in Hadith Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih Bukhari, kemudian menyusun karyanya sendiri, yang tentu saja secara metodologis dipengaruhi karya al-Bukhari.

Antara al-Bukhari dan Muslim, dalam dunia hadits memiliki kesetaraan dalam keshahihan hadits, walaupun hadits al-Bukhari dinilai memiliki keunggulan setingkat. Namun, kedua kitab hadits tersebut mendapatkan gelar sebagai as-Shahihain.

Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan, sebenarnya perbedaannya sangatlah sedikit, dan walaupun itu terjadi, hanyalah pada sistematika penulisannya saja, serta perbandingan antara tema dan isinya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an; agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup dengan "kemungkinan" bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya tadlis.

Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsaqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Disamping itu kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhari.

Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar —, bahwa Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya, karena menyusunnya di negeri sendiri dengan berbagai sumber di masa kehidupan guru-gurunya. Beliau juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhari lakukan. Dan sejumlah alasan lainnya.

Namun prinsipnya, tidak semua hadits Bukhari lebih shahih ketimbang hadits Muslim dan sebaliknya. Hanya pada umumnya keshahihan hadits riwayat Bukhari itu lebih tinggi derajatnya daripada keshahihan hadits dalam Shahih Muslim.

Karya-karya Imam Muslim

Imam Muslim berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti: 1) Al-Asma’ wal-Kuna, 2) Irfadus Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5) Auhamul Muhadditsin, 7)At-Tarikh, 8) At-Tamyiz, 9) Al-Jami’, 10) Hadits Amr bin Syu’aib, 11) Rijalul ‘Urwah, 12)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal, 13) Thabaqat, 14) Al-I’lal, 15) Al-Mukhadhramin, 16) Al-Musnad al-Kabir, 17) Masyayikh ats-Tsawri, 18) Masyayikh Syu’bah, 19) Masyayikh Malik, 20) Al-Wuhdan, 21) As-Shahih al-Masnad.

Kitab-kitab nomor 6, 20, dan 21 telah dicetak, sementara nomor 1, 11, dan 13 masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental adalah Shahih dari judul singkatnya, yang sebenarnya berjudul, Al-Musnad as-Shahih, al-Mukhtashar minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl ‘anil ‘Adl ‘an Rasulillah.

Wafatnya Imam Muslim

Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga Allah SWT merahmatinya, mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh. Amiin.

Rabu, 17 April 2013

Imam Bukhari; Pemimpin dalam Ilmu Hadits

Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits) adalah julukannya. Tak aneh, jika (hampir) semua umat Islam mengenal namanya. Siapa ulama yang namanya kerap ditulis pendek –Bukhari- itu?
 Luar Biasa!
Dalam hal hadits, hampir semua ulama di dunia merujuk kepada Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju'fi al-Bukhari. Bukhari nama pendeknya, dinisbahkan kepada Bukhara (di Uzbekistan, Asia Tengah), nama daerah asal dia.
Bukhari lahir pada 196 H / 810 M. Dia tumbuh-kembang di keluarga yang berilmu. Ayah dia -Ismail bin Ibrahim- ahli fikih bermazhab Maliki. Sang ayah memang murid Imam Malik.
Ayah Bukhari dikenal wara' (berhati hati terhadap yang syubhat, terlebih yang haram). Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil, namun meninggalkan warisan yang tak sedikit. Sang ayah pernah berkata, “Saya tidak mengetahui satu dirham-pun dari harta saya dari barang yang haram, dan begitu juga satu dirham-pun harta saya bukan dari hal yang syubhat.”
Bukhari-pun diasuh ibunya. Di masa kecilnya, mata Bukhari sempat buta. Suatu ketika ibunya bermimpi berjumpa Nabi Ibrahim a.s., yang lalu berkata kepadanya: “Wahai Ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang engkau panjatkan kepada-Nya.” Dan –subhanallah- menjelang pagi harinya, sang ibunda mendapati penglihatan Bukhari telah sembuh.
Bukhari menjadikan warisan sang ayah sebagai media untuk tak lelah mencari ilmu. Saat berusia 16 tahun, dia bersama ibu dan kakaknya ke Makkah berhaji. Dia lalu tinggal dekat Baitulah beberapa lama untuk belajar kepada para guru besar hadits. Di Madinah dia juga belajar.
Bukhari cerdas dan hafalannya kuat. “Saya mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika masih di sekolah baca-tulis,” kata Bukhari. Lalu, Muhammad bin Abi Hatim bertanya, “Saat itu umur engkau berapa?” Bukhari menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Lalu, setelah lulus, saya rajin menghadiri majelis hadits Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Ketika sedang membacakan hadits di hadapan murid-muridnya, Ad-Dakhili berkata; ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Saya-pun menyelanya, ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Tapi, Ad-Dakhili menolak saya. Saya berkata kepadanya, ‘Kembalikanlah kepada sumber aslinya, jika Anda punya.’ Ad-Dakhili lalu masuk melihat kitabnya, lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana engkau bisa tahu wahai anak muda?’ Saya menjawab, ‘Dia adalah Az- Zubair. Nama aslinya Ibnu ‘Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim’. Lalu, Ad-Dakhili mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan, Ad-Dakhili-pun berkata kepada saya, ‘Engkau benar’.” Maka, Muhammad bin Abi Hatim bertanya kepada saya; “Ketika engkau membantah Ad-Dakhili, berapa umur engkau?” Bukhari menjawab, “Sebelas tahun”.
Hasyid bin Isma’il juga menuturkan: Bukhari selalu bersama kami aktif menghadiri para masayikh Bashrah. Saat itu dia masih seorang anak kecil. Tampak, dia tidak pernah mencatat pelajaran. Setelah berlalu 6 hari, kamipun mencelanya. Dia-pun menjawab semua celaan kami dengan mengatakan: “Kalian telah banyak mencela saya. Tunjukkanlah kepada saya hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Maka, kami-pun mengeluarkan catatan-catatan hadits kami. Ternyata –setelah itu- Bukhari malah menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dia membaca semua hadits-hadits tersebut hafal di luar kepala. Akhirnya, kami yang justru mengklarifikasi catatan-catatan kami dengan berpedoman kepada hafalan Bukhari.
Bukhari mencari ilmu sejak sebelum baligh. “Saya menghabiskan setiap bulan lima ratus dirham, untuk biaya menuntut ilmu,” kata Bukhari. Dia hafal Al-Qur`an dan hafal beberapa karya tulis para ulama (seperti buku Abdullah bin Al-Mubarak).
Suka bepergian untuk mencari ilmu adalah sifat yang paling menonjol dari para ahli hadits. Bukhari pun demikian. Dia tak hanya belajar di negerinya sendiri, tapi juga berkeliling seperti ke Khurasan dan sekitarnya, Bashrah, Kufah, Baghdad, Hijaz (Makkah dan Madinah), Syam, Al-Jazirah (kota-kota yang terletak di sekitar Dajlah dan Eufrat), dan Mesir. “Saya memasuki Syam, Mesir dan Al-Jazirah dua kali, Bashrah empat kali, di Hijaz beberapa tahun, dan tak terhitung saya memasuki kawasan Kufah dan Baghdad bersama para muhadditsin,” kenang Bukhari.
Sangat banyak guru Bukhari. Ini sebagiannya: 1).Abu ‘Ashim An Nabil. 2).Makki bin Ibrahim. 3).Muhammad bin ‘Isa bin Ath Thabba’ 4).Ubaidullah bin Musa. 5).Ahmad bin Hanbal.
Murid Bukhari sangat banyak yang sebagiannya menjadi ulama berpengaruh seperti: 1).Al-Imam Abu al-Husain Muslim bin al Hajjaj an Naisaburi (204-261), penulis Shahih Muslim. 2).Al-Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi (210-279), penulis Sunan At-Tirmidzi. 3).Al-Imam Abu Bakr bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223-311), penulis Shahih Ibnu Khuzaimah.
Pada usia 18 tahun dia menerbitkan kitab pertamanya, Kazaya Shahabah wa Tabi'in. Karya Bukhari banyak, di antaranya adalah: 1).Al-Jami’ as-Shahih (Shahih Bukhari). 2).Al-Adab al-Mufrad. 3).At-Tarikh ash-Shaghir. 4).At-Tarikh al-Awsath. 4).At-Tarikh al-Kabir. 5).At-Tafsir al-Kabir. 6).Al-Musnad al-Kabir.
Untuk mendapatkan info lengkap mengenai sebuah hadits, Bukhari berkali-kali mendatangi ulama atau perawi sekalipun berada di kota atau negeri yang jauh. Bukhari bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah dia mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits. Semua hadits lalu diseleksi sangat ketat. Bukhari akhirnya hanya menuliskan 9082 hadis dalam karya monumentalnya, Al-Jami’ as-Shahih (Shahih Bukhari). Di situ ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip.
Adakah Lagi?
Imam Muslim (penulis Shahih Muslim) berkata ketika Imam Bukhari menyingkap satu cacat hadits yang tidak di ketahuinya, “Biarkan saya mencium kedua kaki Anda, wahai gurunya para guru dan pemimpin para ahli hadits, serta dokter hadits dalam masalah ilat hadits”. Sementara, atas Imam Bukhari yang wafat pada 256 H / 870 M itu bersaksilah Abu Bakar ibnu Khuzaimah, bahwa “Di kolong langit ini tidak ada orang yang lebih mengetahui hadits lebih dari Muhammad bin Isma’il (Bukhari)”.