Pada 9 April 2014 rakyat Indonesia telah memilih
wakil-wakilnya di DPR/D Kota/Kabupaten dan Provinsi serta DPD, dan sejumlah
nama telah diprediksi lolos ke gedung senayan, baik itu incumbent, maupun
pendatang baru, dari kalangan politisi, artis sampai tukang baso pun meramaikan
bursa caleg (calon anggota legislatif) ini.
Dalam Pemilu 2014 ini kebanyakan rakyat tidak tahu/tidak kenal caleg-caleg yang terpampang dalam surat suara, walaupun wajah mereka hilir mudik di sepanjang jalan, melalui alat peraga kampanye, spanduk dan baliho -yang membuat semrawut wajah kota-. Disinilah kinerja Partai Politik (Parpol) yang buruk, mereka ‘bekerja’ hanya 5 tahun sekali menjelang Pemilu; kaderisasi di Parpol kurang berjalan, sehingga dalam menempatkan calegnya pun asal-asalan, yakni caleg yang asal banyak uang, asal populer (seperti artis) walaupun wawasan, kinerja dalam berorganisasi sangat kurang, bahkan tidak pernah, kepekaan terhadap nasib rakyat kecil tidak ada, sehingga sebutan wakil rakyatpun dipertanyakan, mau membawa aspirasi rakyat yang mana?